Apa yang Hilang dari Ngaji Kitab Online? - Santrijagad

Apa yang Hilang dari Ngaji Kitab Online?

Bagikan Artikel Ini
Oleh: Nabilah Munsyarihah

Enam tahun lalu saya tabarukan ngaji balagh Ramadan ke Sarang, meski cuma mbalagh semoga diakui jadi santrinya Mbah Maimoen. Pengalaman mbalagh ini tak terlupakan. Suasana Al-Anwar Putri yang penuh, ngaji setiap waktu, ngantre kamar mandi yang airnya sangat terbatas dan harus dialirkan dari desa lain, ngantre ambil makan, curi kesempatan melihat laut dari bolongan loster di lantai empat. Sungguh membekas.

Saat itu kondisi kesehatan Mbah Maimoen sedang recovery, beliau hanya ngaji saat Dluha membaca Syajarotul Ma'arif. Sementara dua waktu yang panjang yaitu bada zuhur dan bada tarawih dibadalkan kepada Gus Ghofur Maimoen, mengkhatamkan Riyadlus Sholihin. Saat penutupan balagh, ada acara sanadan. Ya Allah, itu rasanya seperti digrujug rahmat dari langit. Saya yang hina ini 'pirang perkoro' bisa nyanad kepada kiai yang semulia Mbah Maimoen. Padahal ngaji cuma dua minggu.

Ramadan kali ini semua pesantren tidak membuka program balagh atau kilatan Ramadan untuk santri luar. Banyak pesantren sepi, ribuan santrinya dipulangkan. Akhirnya ngaji online menemukan relevansinya. Kiai-kiai kerso ngajinya dionlinekan agar santri yang bisa mengakses tetap bisa ikut ngaji. Padahal mungkin santri yang tidak bisa mengakses lebih banyak lagi.

Jika mau, Ramadan kali ini kita bisa mbalagh ke banyak kiai sekaligus. Misalnya, bakda subuh ikut mbalagh di Lirboyo, bakda dhuha ngaji di Sarang, bakda zuhur ngaji di Krapyak, bakda ashar ngaji di Tambakberas, bakda tarawih ngaji di Leteh, Rembang. Andaikan saja begitu. Sungguh istimewa. Tinggal cek jadwal dan klik channel atau akunnya.

Adik ipar saya kapan hari cerita bahwa gurunya ngendiko bahwa ngaji online itu seperti kita lihat tutorial masak online, bisa lihat dan mungkin bisa niru, tapi tidak bisa merasakan suasananya dan mencicipi rasanya. Andai saya melakukan persis pengandaian di atas, saya bisa seolah mbalagh keliling Jatim-Jateng. Tapi saya tidak bisa merasakan syahdunya suasana pondok, ngantre mandi, sowan kiai dan bunyai, mendapat doa langsung dari beliau-beliau. Itu nikmatnya masyaAllah.

Tradisi ngaji pesantren memang begitu; 'cuma maknani kitab'.  Bagi yang belum pernah merasakan nyantri mungkin susah memahami nikmatnya ngaji bandongan, maknani dengan bahasa Jawa yang tidak kita pakai dalam komunikasi sehari-hari. Di ngaji online itu tidak kelihatan bahwa santri maknani dengan tulisan pegon, suatu tradisi Nusantara yang usianya berabad-abad.

Ngaji di pesantren sebenarnya tidak persis seperti tutorial memasak juga. Karena memasak itu satu kali proses, masakan sudah matang. Ngaji online itu hanya untuk memperluas jangkauan. Tapi proses mengajinya tak bisa sekali jadi. Mengapa?

Ngaji ala pesantren itu untuk memperkaya jiwa. Bukan hanya untuk mengkaji halal-haram, tanya jawab interaktif, lalu sudah. Ngaji ala pesantren itu membaca kitab korasan, maknani gandul, membiarkan diri disirami kearifan ulama, sedikit demi sedikit. Karena itu santri pasti mondok lama, bertahun-tahun, agar jiwanya tidak gersang-gersang amat, syukur-syukur ilmu bisa tumbuh subur dalam sanubari kehidupannya.

Ngaji yang model cuma maknani seperti ini yang menjaga tradisi Islam di Nusantara bertahan dengan watak rahmah dari waktu ke waktu. Santri tidak terobsesi dan terjebak dengan hukum halal-haram belaka, tapi mencari berkah dan hikmah. Santri digembleng untuk mencapai kematangan dalam memahami bahasa al-quran yaitu bahasa arab.

Santri menghabiskan setiap tahun untuk menyelesaikan level demi level pelajaran gramatika bahasa Arab. Sama kayak kita mau sekolah ke Harvard misalnya, masa tidak menguasai bahasa Inggris dan menaklukkan tes TOEFL IBT yg susahnya subhanallah. Mana bisa baca literatur kuliah yang berat dan menuliskan artikel jurnal? Kayak gitu ketatnya pesantren mengajarkan gramatika. Agar santri lanyah memahami dan membaca sendiri kitab ulama. Syukur bisa jadi muallif.

Saya senang ngaji pesantren go online. Tidak semua kiai dan gus harus bisa ngaji seperti Gus Baha yang meraup banyak muhibbin. Gus Baha ngaji juga bukan untuk meraup muhibbin. Beliau ngaji ya ngaji saja.  Beliau juga lebih suka ngaji korasan daripada ceramah, apalagi tanya jawab interaktif ala pengajian urban. Keluasan dan kedalaman ilmu juga wawasan Gus Baha memang sangat istimewa.

Jika ngaji pesantren dilihat viewnya kok tidak tinggi juga tidak masalah. Ngaji ya ngaji saja. Siapa yang mau disiram jiwanya dengan cahaya ilmu ya tinggal buka kitab dan nyimak pengajian. Para kiai dan bunyai yang go online toh tetap akan mengaji dengan model seperti ini, online maupun tidak online. Ini menunjukkan bahwa beliau-beliau itu memang himmah mengajinya luar biasa. Tidak terbendung oleh wabah. Mungkin juga tidak menanyakan berapa viewernya. Esok beliau akan mengaji lagi seperti biasanya.

Dampak pengajian pesantren tidak bisa diukur dari angka view. Dampaknya itu bisa dirasakan dalam budaya keagamaan kita yang bertahan dari masa ke masa. Kalaupun butuh penyesuaian atau bahkan transformasi, tidak ada yang harus diubah dari model pengajian klasik. Transformasi bisa ditambahkan sementara pengajian klasik jalan terus seperti biasa. Pengajian yang madep kitab dan bertemu guru lebih mungkin melahirkan generasi ulama ke depan. Generasi yang menjaga tradisi keulamaan dan keilmuan. Generasi yang menjaga kebangsaan berdasarkan ilmu dan kearifan.

Semoga santri-santri bisa segera kembali ke pondoknya. Awalnya mungkin ambyar. Tapi generasi ulama bukan generasi instan. Yang memang mencukupkan diri menjadi generasi ngaji android setelah wabah ini berlalu, hanya segitu juga hasil yang didapat.

WaLlahu a'lam.

No comments:

Post a Comment